Saya ingin menyampaikan pengalaman istri saya sebagai pelanggan Antavaya terkait pembatalan program Tour Eropa yang diikuti oleh istri saya dan kakak sepupunya.
Istri saya mengikuti program tur Antavaya di Kota Kasablanka dengan paket West Europe Tulip Festival Mt. Titlis & Seine River Cruise dengan tanggal keberangkatan 14 Maret 2026.
Sebagaimana diketahui, pada saat itu terjadi situasi konflik dan ketidakpastian keamanan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada perjalanan internasional. Dalam kondisi tersebut, program tur yang telah kami daftarkan akhirnya dibatalkan.
Sebagai pelanggan, saya dan istri memahami bahwa kondisi tersebut merupakan keadaan kahar (force majeure) yang berada di luar kendali, baik pelanggan maupun penyelenggara perjalanan.
Namun demikian, yang menjadi perhatian saya hingga saat ini adalah proses komunikasi dan penyelesaian pengembalian dana yang menurut pandangan saya masih memerlukan kejelasan lebih lanjut.
Sampai surat ini ditulis, saya belum menerima surat resmi dari pihak Antavaya mengenai pembatalan keberangkatan tur tersebut.
Informasi yang saya peroleh sebagian besar disampaikan melalui komunikasi melalui chat elektronik. Padahal, sebagai pelanggan saya memerlukan dokumen resmi dari perusahaan yang dapat digunakan untuk kepentingan administrasi dan pelaporan pribadi.
Menurut pengalaman saya dalam mengikuti perjalanan tur Eropa, setelah adanya pembatalan perjalanan seharusnya pihak penyelenggara mengumpulkan para peserta untuk menyampaikan penjelasan serta menanyakan keinginan atau rencana selanjutnya. Namun, hal tersebut tidak dilakukan.
Selain itu, dalam proses pengembalian dana yang telah berlangsung hampir empat bulan ini, saya memperoleh informasi mengenai adanya biaya pembatalan atau potongan tertentu yang dibebankan kepada peserta. Sebagai konsumen, saya menghormati apabila memang terdapat ketentuan yang mengatur hal tersebut.
Namun, saya berharap dapat memperoleh penjelasan tertulis mengenai dasar kebijakan, dasar perhitungan, serta alasan pengenaan biaya tersebut, khususnya karena pembatalan terjadi akibat keadaan kahar (force majeure), bukan karena pembatalan sepihak dari istri saya sebagai pelanggan.
Pada prinsipnya, saya berharap dana yang telah kami bayarkan dapat dikembalikan secara penuh.
Saya juga telah menyampaikan kesediaan untuk mempertimbangkan penyelesaian secara musyawarah apabila terdapat dasar dan penjelasan tertulis yang jelas mengenai potongan yang dikenakan.
Saya telah menyampaikan surat kepada pihak manajemen Antavaya dengan harapan memperoleh tanggapan secara resmi. Namun, tanggapan yang saya terima hanya disampaikan melalui chat media sosial, dan hasil negosiasi mengenai pengurangan besaran potongan juga tidak dapat dilakukan.
Pada akhirnya, saya telah menyatakan kesediaan untuk menerima pemotongan tersebut. Namun, saya meminta pihak Antavaya untuk memberikan surat resmi yang menjelaskan dasar permintaan pemotongan atas dana yang telah saya bayarkan.
Berbagai upaya telah saya lakukan, baik melalui penyampaian surat maupun dengan berkonsultasi langsung ke kantor pusat Antavaya. Namun, tidak ada satu pun pihak yang memberikan tanggapan secara langsung atas keluhan kami. Seluruh respons yang kami terima hanya disampaikan melalui chat media sosial.
Menurut saya, transparansi informasi merupakan bagian penting dalam hubungan antara perusahaan dan pelanggan.
Penjelasan yang jelas dan terdokumentasi tidak hanya memberikan kepastian bagi konsumen, tetapi juga meningkatkan kepercayaan terhadap perusahaan dalam menangani situasi yang tidak terduga.
Melalui surat pembaca ini, saya berharap pihak Antavaya dapat memberikan tanggapan resmi mengenai pembatalan tur tersebut, dasar pengenaan potongan dana apabila memang ada, serta kepastian mengenai proses pengembalian dana yang telah dibayarkan oleh pelanggan dan hingga saat ini telah berlangsung hampir empat bulan.
Saya tetap menghargai upaya yang telah dilakukan oleh pihak Antavaya dan berharap permasalahan ini dapat diselesaikan secara baik, profesional, transparan, dan berkeadilan bagi semua pihak. Terima kasih. (IST)