Saya ingin menyampaikan pengalaman saya sebagai konsumen yang membeli laptop Lenovo Yoga Book 9i dalam kondisi baru melalui jalur penjualan resmi dengan harga sekitar 30 juta.
Unit ini merupakan salah satu lini premium Lenovo. Untuk produk pada kategori ini, Lenovo menyediakan layanan purna jual bernama PremiumCare.
Saya berharap dengan harga dan layanan yang disematkan tersebut, saya akan memperoleh kualitas produk sekaligus layanan purna jual yang sepadan. Namun, pengalaman yang saya alami justru sangat jauh dari kesan premium yang dijanjikan.
Pada awal April 2026, laptop saya masuk ke Datascrip Service Center Bandung (PT Primalayan Citra Mandiri) dengan keluhan overheat pada mainboard serta kondisi baterai yang tidak stabil sehingga perangkat sering mati sendiri (auto shutdown).
Pada 14 April 2026, Service Center menerbitkan penawaran biaya perbaikan. Penggantian mainboard masih tercakup dalam masa garansi sehingga diklaim tanpa biaya. Sementara itu, untuk penggantian baterai, karena masa garansinya hanya satu tahun, saya diminta membayar biaya sebesar Rp3.185.700. Saya menyetujui penawaran tersebut, dan disampaikan bahwa estimasi kedatangan suku cadang baterai adalah sekitar satu bulan.
Pada 15 April 2026, saya mentransfer uang muka (DP) sebesar Rp1.600.000 sesuai instruksi dari Service Center. Keesokan harinya, pada 16 April 2026, Service Center mengonfirmasi bahwa estimasi kedatangan suku cadang baterai adalah 30 hari kerja.
Memasuki akhir Mei hingga awal Juni 2026, saya beberapa kali melakukan tindak lanjut (follow up) untuk menanyakan perkembangan perbaikan. Namun, setiap kali saya menghubungi Service Center, saya selalu menerima jawaban bahwa suku cadang baterai masih belum tersedia dan masih dalam proses tindak lanjut ke pihak pusat.
Pada 10 Juni 2026, saya sama sekali tidak mendapatkan respons dari Service Center, baik melalui WhatsApp maupun dua kali panggilan telepon yang saya lakukan pada hari itu.
Kemudian pada 18 Juni 2026, setelah saya menyampaikan ketidakpuasan secara langsung dan mengirimkan email komplain resmi kepada Lenovo Premium Care Indonesia, pihak Service Center akhirnya memberikan respons.
Namun, hingga saat itu mereka tetap tidak dapat memberikan kepastian mengenai estimasi waktu kedatangan suku cadang maupun penyelesaian perbaikan.
Pada 22 Juni 2026, saya menerima informasi bahwa suku cadang baterai diperkirakan akan tiba di Indonesia pada 30 Juni 2026. Namun, pada awal Juli 2026, setelah tanggal tersebut terlewati, saya mengirim seseorang untuk mengambil baterai langsung ke Service Center.
Setibanya di sana, ternyata informasi tersebut tidak sesuai dengan kenyataan karena baterai masih belum tersedia. Saya kemudian kembali diberi estimasi baru bahwa suku cadang akan tersedia dalam waktu 3 hingga 7 hari.
Pada 13 Juli 2026, lebih dari satu minggu telah berlalu sejak estimasi terbaru yang diberikan, namun saya masih belum menerima kabar apa pun mengenai ketersediaan suku cadang.
Pada hari itu, saya kembali menghubungi Service Center melalui WhatsApp dan panggilan telepon pada jam kerja, tetapi tidak satu pun mendapatkan respons. Pada malam harinya, 13 Juli 2026, saya kembali menyampaikan pesan yang berisi kekecewaan saya kepada pihak Service Center.
Pada pagi hari, 14 Juli 2026, pihak Service Center menginformasikan bahwa estimasi ketersediaan baterai mengalami kemunduran menjadi 13 Juli 2026 yang artinya informasi tersebut baru disampaikan setelah tanggal yang dimaksud telah berlalu.
Pihak Service Center juga mengakui bahwa mereka belum dapat memastikan apakah suku cadang baterai benar-benar sudah tersedia di pusat atau belum.
Hingga saat surat ini saya tulis, telah genap 90 hari sejak saya melakukan pembayaran uang muka (DP) untuk penggantian baterai tersebut. Waktu tunggu ini jauh melampaui estimasi awal yang disampaikan, yaitu sekitar satu bulan.
Sepanjang proses ini, saya telah berupaya menghubungi pihak terkait melalui berbagai jalur komunikasi, mulai dari WhatsApp, panggilan telepon, email resmi kepada Lenovo Premium Care Indonesia, hingga pesan langsung melalui akun media sosial resmi Lenovo.
Namun, pola yang saya alami selalu sama, yaitu estimasi yang terus berubah dan tidak pernah terpenuhi, informasi yang baru disampaikan setelah tenggat waktu yang dijanjikan telah terlewati, serta komunikasi yang berulang kali tidak mendapatkan respons.
Saya menulis surat ini bukan untuk mencari sensasi, melainkan agar Lenovo Indonesia benar-benar memberikan perhatian serius terhadap kualitas layanan purna jualnya, khususnya untuk lini produk premium yang dipasarkan dengan harga yang tidak murah.
Sebagai konsumen, saya hanya mengharapkan hal yang sederhana, yaitu kepastian dan komunikasi yang jujur. Namun, justru kedua hal tersebut yang paling sulit saya peroleh selama hampir tiga bulan terakhir.
Saya berharap Lenovo Indonesia dapat menjadikannya sebagai masukan untuk memperbaiki kualitas layanan purna jual, khususnya bagi konsumen produk premium.
Saya juga berharap pengalaman yang saya alami dapat menjadi bahan pertimbangan bagi calon konsumen lain sebelum memutuskan untuk membeli produk premium dari merek ini.
Demikian surat ini saya sampaikan. Atas perhatian dan tanggapan yang diberikan, saya ucapkan terima kasih. (IST)